Serbuan Makanan Cepat Saji

 

Di tengah serbuan makanan cepat saji dan restoran modern, bisnis kue tradisional masih menjanjikan. Potensi pasarnya besar dan tak lekang oleh zaman. Tapi, terdapat resep yang mesti dicermati supaya usaha itu dapat tumbuh dan berkembang.

Di samping pakaian, di antara ladang bisnis yang menjanjikan dan tak pernah sepi dari serbuan konsumen ialah bisnis kuliner. Kondisi ini didukung oleh banyaknya jumlah warga dan gaya hidup canggih yang menuntut kecepatan dan serba praktis. Alhasil, gerai-gerai makanan terus berlahiran di sepanjang jalan bak cendawan di musim hujan.

Bisnis kuliner yang sangat kentara berkembang biak dalam sejumlah tahun terakhir ini ialah jenis makanan canggih yang mengangkat embel-embel “cepat saji”. Makanan ini laksana burger, piza, pasta, dan donat. Meski begitu, makanan atau kue-kue tradisional tak pernah kehilangan pamor dan pasarnya. Lihat saja, penganan lokal tersebut tak hanya dapat dijumpai di pasar tradisional namun pun di pusat perbelanjaan canggih seperti mal dan supermarket.

Maklum, bagaimanapun rasa kue tradisional sangat sesuai dengan lidah orang Indonesia. Peluang bisnis makanan tradisional masih tersingkap lebar lantaran negara ini terdiri dari tidak sedikit daerah dan pelbagai suku. Dan, setiap wilayah itu punya makanan tradisional dengan ciri khasnya.

Di sisi lain, beberapa besar masyarakat negara ini senang merantau ke wilayah lain. Otomatis, di tanah perantauan, orang tetap mengingat dusun halamannya. Salah satu obat distributor rasa kangen tersebut menyantap penganan tradisional dari wilayah asalnya tersebut. Biasanya permintaan makanan tradisional bakal meningkat pesat pada momen-momen tertentu, laksana bulan Ramadan.

Meski begitu, cocok dengan semboyan negara ini, yakni Bhinneka Tunggal Ika, makanan tradisional dari wilayah lain pun tak asing dan dapat dinik-mati oleh orang dari wilayah lain. Misalnya: tahu petis, batagor, pempek palembang, atau bakso tahu, yang menjadi penganan favorit tidak sedikit orang dari sekian banyak daerah.

Margin tinggi

Untuk mengawali bisnis penganan tradisional tersebut tidak susah. Anda bisa mengetahui teknik pembuatannya secara mudah melewati buku, majalah, atau internet. Sedangkan bahan bakunya dapat diperoleh dari pasar tradisional. Namun, bila hendak menjaga kualitas dan rasa, Anda dapat mendatangkan langsung bahan bakunya dari wilayah asal makanan tradisional itu.

Bahkan, andai tidak sempat atau tak dapat membuatnya sendiri, Anda dapat mengambil penganan tradisional tersebut langsung dari pembuatnya guna kemudian dipasarkan kembali untuk konsumen. Keuntungannya, kita tidak butuh repot melakukan pembelian barang hingga mengubah bahan baku menjadi penganan.

Di samping itu, kita terbebas dari risiko menanggung kerugian dampak kudapan tersebut tidak laku atau basi. Soalnya, rata-rata kue tradisional itu ialah kue basah yang tidak duratif dan cuma tahan lama dalam hitungan hari. Nah, untuk menangkal risiko itu, Anda dapat membuat perjanjian dengan pemasok. Jadi, Anda menunaikan sebagian belanjaan di belakang sekaligus membalikkan camilan yang tidak berakhir terjual.

Keuntungan lainnya, laksana sudah menjadi rahasia umum, pedagang dapat memungut untung lebih tinggi ketimbang pembuat penganan. Produsen yang memasarkan penganannya ke pedagang seringkali cuma memungut untung bersih 10%–25% dari harga jualnya. Adapun pedagang dapat menjual 40%–100% di atas harga beli untuk para konsumen.

Simak saja kisah Hary Yanuar, empunya Surabi Janda, di area Dago, Bandung. Saban bulan, omzetnya menjangkau Rp 10 juta. Penjualan terbanyak pada malam Minggu. Dari penjualan itu, dia mengantongi margin keuntungan sampai 40%. “Saban bulan penghasilan bersih dapat mencapai Rp 4 juta sampai Rp 5 juta,” ujarnya.

Wieke Anggraini, empunya Tahu Petis Yudistira, pun mengaku mempunyai margin deviden 40%. Omzet usaha kuliner perempuan 35 tahun ini dari penjualan ritel sebesar Rp 3 juta per hari. Nilai tersebut dapat lebih tinggi lagi bila mendapatkan pesanan dari perusahaan guna konsumsi rapat. Memang permintaan terbesar Tahu Petis Yudhistira berasal dari korporasi. “Sejak mula kami konsentrasi menyasar korporasi sebab sekali pesan jumlahnya banyak,” ujar Wieke. Belakangan, dia mulai menyasar konsumen ritel untuk mengisi pesanan dari restoran atau acara reuni, selain mengisi pesanan individu.

Suniyah, seorang penjaja kue tradisional di sentra buatan kue di Kelurahan Penjaringan Sari, Surabaya, menyatakan penggemar kue basah tradisional produksi tangan masih banyak. Setiap bulan, dia menciptakan sekitar 15.000 kue basah. Jumlah tersebut di luar pesanan eksklusif yang seringkali berkisar 100 buah sampai 300 buah per hari. Dengan kisaran harga Rp 1.500 sampai Rp 3.000 per buah, diperbanyak dengan penjualan kue kering, Suniyah dapat meraup omzet Rp 30 juta per bulan.

Meski tampak menjanjikan, bukan berarti gampang mereguk deviden dari bisnis kue tradisional. Ada sejumlah hal yang harus diperhatikan supaya bisa meraup deviden sebasah penganannya.

• Lokasi dan modal

Dalam bisnis kuliner, tempat adalahsalah satu hal utama meraih kesuksesan. Lokasi mengindikasikan segmen pasar yang bakal dibidik. Di samping itu, tempat menilai besaran modal yang mesti disiapkan, penganan yang disediakan inilah kisaran harga dan margin.

Nah, guna memilih tempat yang tepat diperlukan survei terlebih dahulu. Tujuannya untuk memahami potensi pasar dan meyakinkan makanan yang dijajakan tersebut sesuai dengan keperluan masyarakat di sekitarnya. Survei pun bertujuan mengetahui situasi persaingan di lokasi tersebut. Maklum, kompetisi ketat menciptakan bisnis yang baru dirintis akan susah berkembang.

Pilihan tempat untuk menjajakan kue tradisional ialah di pasar tradisional, pusat perbelanjaan canggih atau mal, gerai lepas di pinggir jalan raya, atau ruko di perumahan perumahan. Setiap lokasi tersebut tentu mempunyai hitungan ongkos yang berbeda-beda.

Untuk sewa gerai di pusat perbelanjaan modern, misalnya, Anda barangkali harus menerbitkan uang Rp 4 juta sampai Rp 8 juta per bulan. Di samping itu, Anda barangkali harus mengeluarkan ongkos tambahan guna merenovasi tidak banyak gerai tersebut supaya terlihat lebih menarik. Anda pun perlu merogoh kocek guna menyiapkan etalase serta melakukan pembelian peralatan, laksana nampan dan pisau.

Hal beda yang butuh diperhatikan ialah konsep yang diangkat pusat perbelanjaan tersebut. Konsep yang tidak sesuai ingin membuat pengunjung tak mau memilih produk yang kita tawarkan.

Sementara bila memilih di pasar tradisional maka ongkos yang dikeluarkan pasti lebih murah. Sebab, ongkos sewa lapak murah dan tidak perlu mengerjakan renovasi. Keunggulan pasar tradisional ialah pengunjungnya tidak jarang kali ramai sehingga dapat beroperasi lebih lama.

Dalam menilai lokasi, Weike lebih tidak sedikit membuka gerai di wilayah pemukiman komunitas Jawa yang memiliki daya beli besar serta menempel di pusat perbelanjaan. Pertimbangannya, tahu petis dagangannya adalahkudapan pribumi Jawa. Adapun lokasi semi outdoor mempermudah konsumen mengetahui tempat tersebut.

Adapun Hary memilih tempat yang ramai dan menjadi lokasi nongkrong anak muda laksana Dago. Pria berusia 29 tahun ini ogah membuka gerai di wilayah yang telah ramai menjajakan surabi sebab persaingannya paling ketat.

• Pasokan

Dalam usaha dagang apa pun, dituntut kejelian untuk menyimak selera pasar. Begitu pula dalam usaha kue tradisional ini. Jenis makanannya mesti cocok dengan segmen pasar yang dituju supaya dagangan tersebut laris.

Ketika memulai usaha, Anda barangkali masih meraba-raba selera pasar. Nah, tidak terdapat salahnya menjajakan aneka kue yang lumayan banyak. Anda dapat mendapatkan aneka kue tersebut dari sebanyak pemasok secara kulakan.

Konsekuensinya, Anda butuh menyiapkan dana lebih tidak sedikit saat mengawali usaha tersebut. Namun, seiring berjalannya waktu, kita tentu dapat mengetahui jenis penganan yang paling tidak sedikit disukai oleh konsumen. Nah, aneka kue itulah yang lebih tidak sedikit dijajakan sampai-sampai dagangannya laris.

Yang terpenting, dalam bersangkutan dengan pemasok, Anda mesti mengawal mutu dagangan. Buatlah perjanjian yang jelas dengan pihak pemasok. Di samping itu, kita perlu pun meyakinkan kelangsungan pengadaan aneka kue itu dari si pemasok. Jangan hingga pelanggan kecewa lantaran kue-kue favoritnya raib dari gerai lantaran pasokannya terhenti.

Keberlangsungan pasokan tidak menjadi tantangan bila Anda menyimpulkan untuk memproduksi sendiri kue tradisional itu. Konsekuensinya, kita repot menyiapkan kue tersebut sejak dari menggali bahan baku, memasak, sampai menjualnya.

• Harga dan pemasaran

Harga jual barang barang-barang tidak sekadar ditentukan oleh biaya produksi dan hitung-hitungan deviden yang hendak diraup. Harga pun mencerminkan target pasar yang dibidik. Harga tinggi pasti tidak sesuai untuk seluruh kalangan masyarakat. Sementara harga yang rendah akan menciptakan segmen pasar yang dibidik dapat semakin luas.

Nah, dalam bisnis distributor bahan kue ini, kita tidak dapat bermain-main dengan harga tinggi guna meraih segmen pasar menengah-atas. Pasalnya, tidak sedikit pelaku usaha bisnis kue tradisional ini menawarkan harga murah, khususnya di pasar-pasar tradisional.

Lantaran tidak sedikit pemain yang menawarkan harga murah, Anda mesti mempromosikan usaha tersebut supaya dikenal oleh masyarakat. Masalahnya, mempromosikan usaha kue tradisional tersebut susah-susah gampang. Maklum, tidak terlalu tidak sedikit ruang guna mempromosikan penganan ini. Salah satu yang mungkin dapat ditempuh ialah mengikuti sekian banyak pameran, baik yang dilangsungkan korporasi atau instansi pemerintah.

Promosi juga dapat dilakukan melewati jejaring sosial, laksana Facebook dan Twitter. Maklum, interaksi masyarakat di dunia maya ketika ini semakin meningkat. Dus, promosi melewati jalur ini dinilai lumayan efektif. Apalagi, ongkos yang mesti dikeluarkan tidaklah besar.

Untuk mempermudah pelanggan menilik produk yang dijajakan, dapat juga memodifikasi format kue tradisional. Cara lainnya ialah membuat kemas-an yang menarik. Strategi ini dapat membedakan barang-barang Anda dengan pemain lainnya dan memikat mata konsumen.

Nah, sesudah berpromosi, proses pemasaran produk ini semakin mudah karena sudah tidak sedikit yang mengenal jualan Anda. Bagi menggenjot pemasaran, Anda dapat mengaktifkan layanan antar alias delivery order. Agar dapat memberikan jasa ini dan menguntungkan, Anda butuh mematok pembelian minimal. Jangan lupa, layanan delivery berarti ekstra biaya.

Setelah usaha berjalan, tidak boleh lupa mengawal komunikasi dengan semua pelanggan lama. Pasalnya, permintaan kue tradisional memang tinggi namun permintaan itu belum pasti datang masing-masing hari. Nah, andai menjaga komunikasi dengan pelanggan lama maka mereka bakal mempunyai loyalitas dengan penganan yang kita jual.

Wieke bilang, di antara kunci keberhasilannya mengembangkan Tahu Petis Yudistira ialah rajin mengekor pameran. Dalam pameran itu, dia bertemu tidak sedikit orang yang adalahpembeli potensial. “Kami pun menjajaki mitra-mitra yang tertarik mengembangkan bisnis ini,” tandasnya.